Home…
Duh, akhirnya aku punya rumahku sendiri. Sebuah flat kecil di lantai lima rusun Petamburan. Ide untuk tinggal di rusun sebenarnya ada sejak aku bermukim di Jakarta, tapi rencana itu sulit terwujud karena lokasinya terlalu jauh dari kantor kakakku dan aku gak punya cukup modal untuk bayar sewa yang jatuh temponya tiga bulanan.
Akhirnya satu tahun pertama di Jakarta, aku tinggal di sebuah rumah khost di kawasan Menteng Pulo. Rumah khost ini dulunya dioperasikan sebagai rumah bersalin, sempet ada kesan menyeramkan dari rumah ini tapi lama-lama aku betah juga. Rumahnya dingin dan cozy banget.
Sejak tinggal di khost-an ini, pupuslah rencanaku untuk tinggal di rumah susun dan aku hidup bahagia, sampai suatu ketika aku mendapat warisan banyak barang dari kamar kakakku karena dia harus pindah ke Prancis.
Masalahnya, Kakakku itu pengumpul sejati, jadi barangnya banyak banget .. mulai dari parfum sampe sandal, mulai dari sikat gigi sampe wajan, dia punya lengkap kap.
Kupikir,kalau aku tinggal di khost-an bisa stress lihat barang begitu banyak tanpa bisa menatanya dengan layak.
Tiba-tiba saja ide untuk tinggal di rusun nongol lagi. Pucuk dicinta ulam tiba, saat aku jenguk Dinda di rumah susun, ternyata ada rumah flat yang masih kosong di lantai paling atas. Aku langsung lihat, warna cat nya hijau. Mmm I like it. Tanpa pikir panjang, tiga hari kemudian aku langsung kasih DP sama yang punya rumah hahahaha.
Langsung aja aku packing, kakakku yang lagi packing untuk perjalanan ke Prancis, terkaget kaget lihat aku ikut2 sibuk ngepack barang pribadiku.
“Kamu ngapain ngepack?” katanya.
“Aku mau pindah juga, emang Cuma kamu aja yang boleh pindah?” kataku sekenanya.
“Haaa…”, katanya… “Pindah kemana?” sambungnya.
“RUSUN,” kataku santai.
“Why?” katanya.
“Lebih dekat dari kantor, lebih lapang jadi bisa muat barang lebih banyak, lebih ekonomis dan ada pasar di bawah kompleks,” kataku.
Kakaku langsung panik, karena minggu itu juga aku pindahan.Tapi dia emang kakak yang baik, meski panik dia tetep mau mengantarku pindahan. Dia bahkan mencarikan korden yang sesuai buat rumahku. Hmmm… rumahku jadi cantik.
Seharian kami bekerja banting tulang, packing and un pack di rumah baru, yang kasihan para tukang angkut yang harus bawa barang warisan dari kakakku yang banyak itu ke lantai lima, lantai teratas di rusunku.
“Rumahmu deket, tapi jauh.” Kata kakaku saat menaiki tangga menuju lantai teratas…
Supaya engga bosen, aku kasih dia cerita :
“Kemarin aku denger khotbah di gereja, pendetanya cerita tentang jemaatnya yang kaya raya dan punya apartemen di lantai dua puluh. Apartemennya sangat mewah dan harga cicilan per bulannya mencapai ratusan juta rupiah. Kalau kita melongok dari beranda ke bawah, maka semua terlihat begitu keciiiilll. Bagaimana dia bisa mengerti orang2 yang hidup di kolong jembatan kalau semuanya begitu keciilll?” kata pak pendeta yang berusaha menyindir para orang kaya.
Lalu khotbah itu ku lanjutkan sendiri : “Pak pendeta tidak tahu, memang para orang kaya itu jauh dari para orang miskin, tapi setidaknya mereka jadi lebih dekat pada Tuhan… hehehehe.” Dan kakakku tertawa keras.
Apakah setelah aku pindah rumah dari lantai dasar ke lantai lima, aku akan lebih dekat dengan Tuhan??
Semoga kedekatanku dengan Tuhan bukan dilihat dari jumlah ketinggian lantainya ya, hehehe.
Ok kita lanjutkan ke rumah flatku itu ya…
Seminggu kemudian aku resmi tinggal di flat, segera saja keluarga besarku menengok aku di rumah baru dan meski sedikit shock dengan pasar tumpah, rel kereta api dan sungai penuh sampah di dekat rumahku, tapi akhirnya mereka pasrah setelah melihat flat yang aku pake ternyata lumayan layak meskipun imut.
Flat ku itu tidak terlalu besar, ada satu kamar, satu ruang penerima tamu, satu dapur, satu kamar mandi dan beranda belakang untuk gudang terbuka dan jemuran.
Aku senang tinggal di flat ini, karena aku punya Mbak Ayu, yang rajin datang setiap untuk membersihkan rumah, nyuci dan setrika .
Aku juga senang, karena akhirnya aku bisa bergabung dengan Dinda dan Dahono, mencoba untuk hidup mandiri (mereka udah satu tahun tinggal di rusun dan baik2 saja, hebat).
Pada minggu kedua di rumah susun, aku memutuskan untuk membawa kompor gas dari Bandung dan mulai memasak sendiri. Toh di bawah ada pasar tumpah yang selalu siap sedia berbagai bahan masakan di setiap paginya.
Ternyata, memasak sendiri itu menyenangkan! Masakan pertamaku adalah nasi special, ayam goreng plus lalapan, tempe goreng dan telur dadar. Tetangga dekat yaitu Dinda dan bobby. Aku juga kirim masakan ke tetangga hihihihi. Ternyata, semua suka masakanku, kecuali Bobby yang gak ikut nyicipin karena udah terlanjur makan di luar, Dinda sampe nambah tiga kali dan memakan ayamnya tanpa nasi.
Lucunya, aku juga kedatangan induk kucing beserta empat anaknya yang kecil-kecil, minta jatah preman. Sang induk kucing bahkan tak sungkan untuk menitipkan anaknya di rumahku yang baru.
Dengan sedih aku bilang pada si induk bahwa aku engga bisa memelihara mereka di rumah, karena aku sering pergi keluar kota. Sang induk ternyata mengerti walau sempat mengeong dengan nada protes.
Kadang-kadang aku masih suka kaget kalau denger suara kereta, atau denger panggilan sahur dari para pemuda di bawah yang kuencengnya minta ampun.
Tapi sedikit banyak, aku lebih tenang hidup di flat.. karena aku engga perlu buru-buru kalau pergi ke kantor dan aku selalu punya waktu untuk masak sarapan sebelum kerja hehehe.
I love my new home...
Tinggal nyari suami hehehehe
Akhirnya satu tahun pertama di Jakarta, aku tinggal di sebuah rumah khost di kawasan Menteng Pulo. Rumah khost ini dulunya dioperasikan sebagai rumah bersalin, sempet ada kesan menyeramkan dari rumah ini tapi lama-lama aku betah juga. Rumahnya dingin dan cozy banget.
Sejak tinggal di khost-an ini, pupuslah rencanaku untuk tinggal di rumah susun dan aku hidup bahagia, sampai suatu ketika aku mendapat warisan banyak barang dari kamar kakakku karena dia harus pindah ke Prancis.
Masalahnya, Kakakku itu pengumpul sejati, jadi barangnya banyak banget .. mulai dari parfum sampe sandal, mulai dari sikat gigi sampe wajan, dia punya lengkap kap.
Kupikir,kalau aku tinggal di khost-an bisa stress lihat barang begitu banyak tanpa bisa menatanya dengan layak.
Tiba-tiba saja ide untuk tinggal di rusun nongol lagi. Pucuk dicinta ulam tiba, saat aku jenguk Dinda di rumah susun, ternyata ada rumah flat yang masih kosong di lantai paling atas. Aku langsung lihat, warna cat nya hijau. Mmm I like it. Tanpa pikir panjang, tiga hari kemudian aku langsung kasih DP sama yang punya rumah hahahaha.
Langsung aja aku packing, kakakku yang lagi packing untuk perjalanan ke Prancis, terkaget kaget lihat aku ikut2 sibuk ngepack barang pribadiku.
“Kamu ngapain ngepack?” katanya.
“Aku mau pindah juga, emang Cuma kamu aja yang boleh pindah?” kataku sekenanya.
“Haaa…”, katanya… “Pindah kemana?” sambungnya.
“RUSUN,” kataku santai.
“Why?” katanya.
“Lebih dekat dari kantor, lebih lapang jadi bisa muat barang lebih banyak, lebih ekonomis dan ada pasar di bawah kompleks,” kataku.
Kakaku langsung panik, karena minggu itu juga aku pindahan.Tapi dia emang kakak yang baik, meski panik dia tetep mau mengantarku pindahan. Dia bahkan mencarikan korden yang sesuai buat rumahku. Hmmm… rumahku jadi cantik.
Seharian kami bekerja banting tulang, packing and un pack di rumah baru, yang kasihan para tukang angkut yang harus bawa barang warisan dari kakakku yang banyak itu ke lantai lima, lantai teratas di rusunku.
“Rumahmu deket, tapi jauh.” Kata kakaku saat menaiki tangga menuju lantai teratas…
Supaya engga bosen, aku kasih dia cerita :
“Kemarin aku denger khotbah di gereja, pendetanya cerita tentang jemaatnya yang kaya raya dan punya apartemen di lantai dua puluh. Apartemennya sangat mewah dan harga cicilan per bulannya mencapai ratusan juta rupiah. Kalau kita melongok dari beranda ke bawah, maka semua terlihat begitu keciiiilll. Bagaimana dia bisa mengerti orang2 yang hidup di kolong jembatan kalau semuanya begitu keciilll?” kata pak pendeta yang berusaha menyindir para orang kaya.
Lalu khotbah itu ku lanjutkan sendiri : “Pak pendeta tidak tahu, memang para orang kaya itu jauh dari para orang miskin, tapi setidaknya mereka jadi lebih dekat pada Tuhan… hehehehe.” Dan kakakku tertawa keras.
Apakah setelah aku pindah rumah dari lantai dasar ke lantai lima, aku akan lebih dekat dengan Tuhan??
Semoga kedekatanku dengan Tuhan bukan dilihat dari jumlah ketinggian lantainya ya, hehehe.
Ok kita lanjutkan ke rumah flatku itu ya…
Seminggu kemudian aku resmi tinggal di flat, segera saja keluarga besarku menengok aku di rumah baru dan meski sedikit shock dengan pasar tumpah, rel kereta api dan sungai penuh sampah di dekat rumahku, tapi akhirnya mereka pasrah setelah melihat flat yang aku pake ternyata lumayan layak meskipun imut.
Flat ku itu tidak terlalu besar, ada satu kamar, satu ruang penerima tamu, satu dapur, satu kamar mandi dan beranda belakang untuk gudang terbuka dan jemuran.
Aku senang tinggal di flat ini, karena aku punya Mbak Ayu, yang rajin datang setiap untuk membersihkan rumah, nyuci dan setrika .
Aku juga senang, karena akhirnya aku bisa bergabung dengan Dinda dan Dahono, mencoba untuk hidup mandiri (mereka udah satu tahun tinggal di rusun dan baik2 saja, hebat).
Pada minggu kedua di rumah susun, aku memutuskan untuk membawa kompor gas dari Bandung dan mulai memasak sendiri. Toh di bawah ada pasar tumpah yang selalu siap sedia berbagai bahan masakan di setiap paginya.
Ternyata, memasak sendiri itu menyenangkan! Masakan pertamaku adalah nasi special, ayam goreng plus lalapan, tempe goreng dan telur dadar. Tetangga dekat yaitu Dinda dan bobby. Aku juga kirim masakan ke tetangga hihihihi. Ternyata, semua suka masakanku, kecuali Bobby yang gak ikut nyicipin karena udah terlanjur makan di luar, Dinda sampe nambah tiga kali dan memakan ayamnya tanpa nasi.
Lucunya, aku juga kedatangan induk kucing beserta empat anaknya yang kecil-kecil, minta jatah preman. Sang induk kucing bahkan tak sungkan untuk menitipkan anaknya di rumahku yang baru.
Dengan sedih aku bilang pada si induk bahwa aku engga bisa memelihara mereka di rumah, karena aku sering pergi keluar kota. Sang induk ternyata mengerti walau sempat mengeong dengan nada protes.
Kadang-kadang aku masih suka kaget kalau denger suara kereta, atau denger panggilan sahur dari para pemuda di bawah yang kuencengnya minta ampun.
Tapi sedikit banyak, aku lebih tenang hidup di flat.. karena aku engga perlu buru-buru kalau pergi ke kantor dan aku selalu punya waktu untuk masak sarapan sebelum kerja hehehe.
I love my new home...
Tinggal nyari suami hehehehe


9 Comments:
wah selamat yah pindahannya, mbak Rieska!
Halo, Rieska. Masih inget Ine ngga, temannya Dessi. Selamat pindahan ke rumah baru ya.... . Moga betah disana. Btw masih ada kavling kosong gak disana?
(ine)
Makasih Ronie dan teh Ine. Apa kabar kalian berdua?
Kapan main ke 'rumah' baruku?
Masih banyak nih yang kosong, salah satunya malahan di depan flat aku, enak lho soalnya yang di depanku itu udah dimodifikasi jadi dua lantai dan kamarnya 3.. padahal yang normal cuma satu kamar. Berminat?
ih. sumpah dh, gw juga sebel bgt sama anak2 yang bangunin sahur semangat bgt ituh! baru aja gw merem udah gedungplakplungdugdugprang gituh sambil teriak-teriak. hhh...
waaa.. kayaknya flat mu makin nyaman... sejak pindahan itu, aku blom sempat menginap, cuman sempet tidur siang kecapean abis pack n unpacking tea...
Barang2ku bermangpaat nya? hahahahah
Tinggal cari suami? hahahhahahh....
waaa.. kayaknya flat mu makin nyaman... sejak pindahan itu, aku blom sempat menginap, cuman sempet tidur siang kecapean abis pack n unpacking tea...
Barang2ku bermangpaat nya? hahahahah
Tinggal cari suami? hahahhahahh....
Hai Adik..
makin nyaman tampaknya ya flat-mu. Aku belum sempat menginap di sana, baru sempat tidur siang kecapean habis kita pack n unpacking tea.
Barang2ku bermangpaat ya? sukurlah...heheheh
eh, apa? tinggal cari suami? ehaHeiaHeiaHEiaehi... !!
Adeuh... yang udah punya flat sendiri... yakin tuch di situ sendirian ? ? "glek" he he.
Semoga betah ya, kapan nich mau ketemuan ?
@pry
Adeuh... yang udah punya flat sendiri... yakin tuch di situ sendirian ? ? "glek" he he.
Semoga betah ya, kapan nich mau ketemuan ?
@pry
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home